-->

Notification

×

Iklan

Iklan

‎15 Hari Karhutla Belum Padam, 70 Hektare Lahan Gambut di OKI Terbakar‎

28 Agustus 2026 | Agustus 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-28T12:40:50Z

‎OKI, SUMSEL — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, hingga kini belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Tim gabungan masih berjibaku menangani kebakaran yang terjadi di Desa Kotabumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, yang telah berlangsung selama sekitar 15 hari.

‎Hingga Kamis (27/8/2026), kobaran api diperkirakan telah menghanguskan sekitar 70 hektare lahan gambut. Kondisi gambut yang kering menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman, karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan sewaktu-waktu kembali muncul.

‎Petugas di lapangan pun harus melakukan pemadaman sekaligus pendinginan secara berulang untuk memastikan titik-titik api dan bara benar-benar terkendali.

‎Penanganan dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni bersama personel TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur terkait lainnya. Tim terus melakukan penyisiran, pemadaman, dan pendinginan di kawasan terdampak.

‎Enam Kecamatan Terdampak

‎Karhutla tidak hanya terjadi di Kecamatan Tanjung Lubuk. Sejumlah wilayah lain di Kabupaten OKI juga terdampak kebakaran. Sedikitnya enam kecamatan tercatat mengalami kejadian karhutla, yakni Cengal, Tulung Selapan, Tanjung Lubuk, Sungai Menang, Jejawi, dan Pampangan.

‎Beberapa lokasi yang mendapatkan penanganan antara lain Desa Kotabumi, Tulung Selapan Ilir, serta Desa Deling, Kecamatan Pangkalan Lampam.

‎Plt Kepala BPBD OKI, Nova Triyussanto, menyebut kondisi lahan yang kering, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, serta keterbatasan sumber air menjadi sejumlah tantangan dalam proses penanganan karhutla.

‎Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, terlebih kebakaran terjadi di kawasan gambut yang memiliki karakteristik berbeda dengan lahan biasa.

‎Kabut Asap Mulai Berdampak terhadap Kesehatan

‎Dampak karhutla juga perlu mendapat perhatian dari sisi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan OKI mencatat 92 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama Agustus 2026, di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah.

‎Masyarakat di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara, terutama kelompok rentan, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk.

‎Selain mengancam kesehatan, kabut asap juga berpotensi mengganggu jarak pandang dan keselamatan pengguna jalan serta memberikan tekanan terhadap ekosistem gambut.

‎Puncak Kemarau, OMC Dikerahkan

‎Ancaman karhutla di Sumatera Selatan masih tergolong tinggi seiring memasuki periode puncak musim kemarau. Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau di wilayah Sumatera Selatan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

‎Sebagai salah satu upaya membantu penanganan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dijadwalkan berlangsung pada 27–29 Agustus 2026. Operasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah-wilayah yang rawan karhutla.

‎Sementara itu, luas karhutla di Sumatera Selatan hingga Juli 2026 tercatat sekitar 1.926 hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan strategi terpadu dan berkelanjutan.

‎Tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Patroli, pencegahan, pengawasan kawasan rawan, edukasi masyarakat, serta kesiapan sumber air menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman karhutla.

‎Menjaga Gambut, Menjaga Masa Depan

‎Persoalan karhutla juga kembali mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Pandangan tokoh lingkungan Emil Salim mengenai pentingnya pembangunan yang memperhatikan kelestarian lingkungan menjadi relevan dalam menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan.

‎Pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam perlu berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan. Kelestarian lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kondisi saat ini, tetapi juga menyangkut hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan yang sehat.

‎Karhutla di OKI dengan demikian bukan semata persoalan api yang harus dipadamkan. Kebakaran lahan gambut dapat menimbulkan dampak berantai terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, keselamatan transportasi, hingga keberlangsungan ekosistem.

‎Hingga berita ini disusun, tim gabungan yang terdiri atas Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, MPA, dan unsur terkait masih melakukan pemadaman serta pendinginan di sejumlah titik karhutla di Kabupaten OKI.

‎Dengan kondisi lapangan yang masih dinamis dan musim kemarau yang belum berakhir, pengawasan intensif diperlukan agar api tidak kembali meluas. Pemadaman dinyatakan benar-benar tuntas apabila tidak lagi ditemukan titik api maupun bara yang berpotensi memicu kebakaran susulan.


‎Editor : ( Ade. R. S )


×
Berita Terbaru Update