-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Raden Rafiq Jadi Wawasepuh Kerajaan Galuh, DKCC Dorong Sinergi Pelestarian Budaya Ciamis

08 Agustus 2026 | Agustus 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-08T11:11:33Z


CIAMIS, GLOBAL JABAR NEWS  – Pengistrenan Raden Rafiq Hakim Radinal sebagai Wawakil Kerajaan Galuh membuka ruang baru bagi penguatan sejarah dan kebudayaan di Kabupaten Ciamis.

Momentum pengistrenan yang berlangsung di Keraton Selagangga, Sabtu (8/8/2026), mempertemukan berbagai unsur yang memiliki perhatian terhadap pelestarian sejarah, adat, tradisi, dan budaya Tatar Galuh.

Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis (DKKC) menyambut kehadiran Raden Rafiq sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kebudayaan di Ciamis.

Ketua DKCC Dr. H. Yat Rospia Brata, M.Si., menilai keberadaan Wawaki Kerajaan Galuh dapat menjadi energi baru dalam menjaga sekaligus memperkenalkan kembali sejarah Galuh kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Menurut Yat, DKCC dan Wawaki Kerajaan Galuh memiliki ruang kerja yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan apabila kedua pihak membangun komunikasi dan sinergi.

“Dewan kebudayaan itu sifatnya formal melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Beliau ini urusannya nasab dan tradisi. Jadi saya kira justru bisa saling menguatkan,” ujar Yat.

DKCC dan Wawaki Kerajaan Galuh Punya Peran Berbeda

Yat menegaskan, kehadiran Raden Rafiq sebagai Wawaki Kerajaan Galuh tidak menggantikan peran DKCC dalam menjalankan program pemajuan kebudayaan.

DKCC memiliki tugas dan fungsi dalam pengembangan kebudayaan. Sementara itu, Wawaki Kerajaan Galuh memiliki keterkaitan dengan sejarah, nasab, adat, serta tradisi kerajaan.

Karena itu, Yat mendorong kedua unsur tersebut menjalankan perannya masing-masing secara proporsional.

“Bukan berarti sekarang jadi Wawaki Kerajaan Galuh kemudian semuanya digerakkan oleh beliau. Ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya sakral secara umum, kemudian beliau juga bisa menjadi pendukung,” kata Yat.

Ia menilai komunikasi antara DKCC dan Wawaki Kerajaan Galuh penting untuk menentukan bentuk kolaborasi yang tepat. Kedua pihak dapat menyusun program bersama dengan membagi ruang kerja sesuai kapasitas masing-masing.

Keraton Selagangga Didorong Jadi Ruang Publik

Selain membahas sinergi kelembagaan, Yat mengapresiasi keterbukaan Raden Rafiq dalam memanfaatkan kawasan Keraton Selagangga sebagai ruang yang dapat digunakan masyarakat.

Menurutnya, kawasan tersebut tidak harus terbatas untuk kegiatan adat dan budaya. Masyarakat juga dapat memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan positif.

“Beliau sangat terbuka. Kemarin saya bicara dengan beliau, termasuk ruang ini akan dipermanenkan. Bahkan beliau mengatakan, tidak hanya untuk acara budaya, kalau Idulfitri juga silakan dipakai,” ungkap Yat.

Yat menilai keterbukaan tersebut dapat mendekatkan keberadaan Kerajaan Galuh dengan masyarakat. Interaksi yang lebih luas juga dapat membuat ruang budaya semakin hidup.

Ia berharap masyarakat tidak hanya mengenal Kerajaan Galuh sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga dapat berinteraksi dengan ruang budaya yang ada secara positif.

Sinergi Diharapkan Melahirkan Program Konkret

DKCC berharap pengistrenan Raden Rafiq tidak berhenti pada prosesi adat dan seremoni. Momentum tersebut dapat menjadi awal pembentukan kerja sama yang lebih konkret antara Kerajaan Galuh, Pemerintah Kabupaten Ciamis, DKCC, seniman, budayawan, komunitas, dan masyarakat.

Yat mengatakan, masing-masing pihak perlu duduk bersama untuk membahas program yang dapat dikerjakan secara kolaboratif.

“Yang penting ke depan kita duduk bersama, menyusun program, kemudian melihat bagian mana yang bisa dikerjakan bersama,” tuturnya.

Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat melahirkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Program kebudayaan juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali sejarah dan budaya Galuh kepada generasi muda.

Wawaki Kerajaan Galuh Jadi Energi Baru Kebudayaan Ciamis

Yat menilai kehadiran Wawaki Kerajaan Galuh dapat memperkuat jaringan kebudayaan di Kabupaten Ciamis.

Kehadiran tersebut juga dapat menjadi penghubung antara warisan sejarah Galuh dengan gerakan pemajuan kebudayaan yang melibatkan pemerintah, DKCC, seniman, budayawan, komunitas, dan masyarakat.

“Kalau semua bisa berjalan bersama, saya kira akan semakin kuat. Kerajaan Galuh memiliki ruangnya, Dewan Kebudayaan juga memiliki tugasnya, pemerintah punya perannya, begitu juga para seniman, budayawan dan masyarakat,” pungkas Yat.

Ia berharap sinergi tersebut tidak hanya menghasilkan agenda seremonial. Lebih dari itu, kerja sama dapat melahirkan program berkelanjutan untuk menjaga identitas budaya Ciamis sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah Galuh di tengah masyarakat.

fauzi


×
Berita Terbaru Update