Kehadiran Bupati Ciamis Herdiat Sunarya turut menambah semarak gelaran budaya yang telah menjadi agenda rutin sejak 1998 tersebut. Tradisi Nyiar Lumar sempat tidak dilaksanakan pada 2020 dan 2024, sebelum akhirnya kembali digelar pada 2026.
Secara filosofis, istilah nyiar berarti mencari, sedangkan lumar merujuk pada jamur bercahaya. Makna tersebut menjadi simbol perjalanan spiritual manusia dalam mencari jati diri sekaligus ruang perenungan terhadap kejayaan peradaban masa lalu, khususnya sejarah Kerajaan Galuh.
Dalam sambutannya, Bupati Herdiat Sunarya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Ia menilai, keberlangsungan Nyiar Lumar tidak terlepas dari kekuatan kolaborasi antara pemerintah, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, generasi muda, dan masyarakat
.
“Sinergi dan semangat gotong royong yang ditunjukkan malam ini sangat luar biasa. Nyiar Lumar bukan sekadar perayaan lokal, melainkan aset wisata budaya yang harus terus kita rawat,” ujar Herdiat.
Menurutnya, tradisi tersebut perlu terus dikembangkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan budaya yang menjadi akar utamanya. Pemerintah daerah, kata Herdiat, akan terus mendorong agar Nyiar Lumar dapat dikemas semakin menarik sehingga mampu menjangkau wisatawan dari berbagai daerah.
“Ke depan, mari kita kemas bersama agar daya tariknya semakin meningkat dan mampu mendatangkan wisatawan berskala lebih besar lagi,” tegasnya.
Libatkan Ratusan Pelajar
Pelestarian budaya dalam Nyiar Lumar 2026 juga mendapat perhatian dari sisi regenerasi. Berdasarkan laporan perwakilan panitia, Abah Ocay, kegiatan tahun ini menghadirkan 18 pagelaran kesenian yang menjadi tontonan masyarakat.
Tak hanya itu, sekitar 300 pelajar tingkat SD hingga SMA/SMK se-Kecamatan Kawali turut dilibatkan dalam rangkaian kegiatan.
Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi. Nyiar Lumar tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang edukasi sejarah secara langsung bagi para pelajar.
Dengan demikian, generasi muda dapat mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan daerah yang tumbuh dari jejak panjang peradaban Galuh
.
Kementerian Kebudayaan Dorong Pelestarian Situs Ciamis
Komitmen masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam merawat warisan budaya juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat.
Hadir mewakili Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anissa Rengganis, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi masyarakat Ciamis dalam menjaga tradisi dan peninggalan sejarah.
Ciamis dikenal memiliki kekayaan situs sejarah yang sangat besar. Kabupaten ini bahkan kerap disebut sebagai “Kota Seribu Situs”, dengan sekitar 1.200 situs bersejarah yang tersebar di berbagai wilayah.
Menurut Anissa, jejak peradaban Sunda Galuh yang terdapat di Ciamis memiliki narasi sejarah yang kuat dan penting untuk terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengambil langkah strategis dalam menjaga keberadaan situs-situs tersebut, termasuk melalui pengajuan pendaftaran agar situs bersejarah di Ciamis dapat masuk dalam prioritas nasional.
Dari Tradisi Lokal Menuju Destinasi Wisata Budaya
Pemerintah Kabupaten Ciamis berharap pelaksanaan Nyiar Lumar dapat terus dipertahankan dan dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Evaluasi serta penyempurnaan konsep kegiatan dinilai penting agar Nyiar Lumar tidak berhenti sebagai agenda budaya masyarakat setempat. Lebih dari itu, tradisi tersebut diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu menarik wisatawan dari luar daerah.
Dari Astana Gede Kawali, jejak kejayaan Galuh kembali digaungkan—bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk menjadi bagian dari masa depan kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Ciamis.